Senin,12 Maret 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Senin,12 Maret 2018

Senin,12 Maret 2018
by

Percikan Nas
Senin,12 Maret 2018
Aloisius Orione
warna liturgi Ungu

Bacaan-bacaan:
Yes. 65:17-21; Mzm. 30:2,4,5-6,11-12a,13b; Yoh. 4:43-54. BcO Im. 16:2-28.

Nas Injil:
43 Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, 44 sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. 45 Maka setelah ia tiba di Galilea, orang-orang Galileapun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiripun turut ke pesta itu. 46 Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. 47 Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. 48 Maka kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” 49 Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” 50 Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. 51 Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. 52 Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: “Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.” 53 Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.” Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya. 54 Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

Percikan Nas
Suatu kali seorang anak dipanggil kepala sekolahnya. Ketika bertemu dengan sang kepala sekolah dia ditanya mengapa nilainya buruk. Sang anak hanya terdiam tidak bisa menjawab apa-apa. Setelah sekian lama sang kepala sekolah itu pun mengatakan, “Saya itu yakin kamu bukan orang bodoh. Saya percaya kamu bisa jauh lebih baik dari ini.” Kalimat kepala sekolah ini bergolak di hati sang anak. Ia pun semangat dan akhirnya ia pun berhasil dalam studinya.
Kepercayaan seseorang sungguh bisa menghidupkan. Kepercayaan pegawai istana pada Tuhan Yesus menyembuhkan anaknya yang sakit. Kiranya kepercayaan sungguh menjadi daya bagi siapapun untuk hidup semakin hidup.
Bagaimana kita juga memberikan kepercayaan kepada keluarga dan sesama kita? Bagaimana kita merasakan dihidupi oleh kepercayaan orang kepada diri kita?

Doa:
Bapa kami sungguh bersyukur kepada-Mu. Kami percaya Engkau tidak pernah membiarkan kami dalam kesulitan tak tertanggung. Semoga kami pun bisa membagi kepercayaan kepada sesama. Amin.
(goeng)

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: