Senin, 9 April 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Senin, 9 April 2018

Senin, 9 April 2018
by

Percikan Nas
Senin, 9 April 2018
Hari Biasa Pekan II Paskah
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis 4:23-31; Mzm 2:1-3.4-6.7-9; Yoh. 3:1-8. BcO Kis 4:32-5:16.

Nas Injil:
1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” 3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” 4 Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” 5 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”

Percikan Nas
Percakapan Tuhan Yesus dengan Nikodemus ini sungguh menarik. Nikodemus mengawali percakapan dengan pengakuan siapa Yesus dalam pandangannya. Yesus menanggapinya dengan gagasan soal lahir baru. Spontan saya menangkap bahwa Yesus menilai pandangan Nikodemus ini sebagai sebuah kelahiran baru. Yesus pun mempunyai kesempatan untuk mengajarkan hal baru.
Dari permenungan singkat saya tergerak pada kesadaran bahwa ketika pandangan kita terbuka kita akan mendapatkan banyak hal baru yang memperkaya pengetahuan bahkan hidup kita. Keterbukaan pikiran akan sesuatu yang baru memang merangsang hadirnya banyak hal baru. Sebaliknya ketika kita menutup diri dengan pikiran kita sendiri kita menjadi kuper bahkan mungkin gampang marah kalau ada yang berbeda atau tidak mengikuti pikiran kita.
Kiranya kita pun selalu berani membuka diri terhadap segala kemungkinan yang berbeda dengan pikiran kita. Kita perlu sungguh menyerap dan belajar dari kehidupan ini. Tentu keterbukaan ini tetap perlu didukung oleh kemantapan diri kita. Hal-hal baru diterima bukan untuk menghilangkan jatidiri tapi meneguhkan jatidiri kita. Semakin terbuka semakin mantap jatidiri kita.

Doa:
Bapa bukalah budi pikiranku untuk menangkap ajaran-ajaran-Mu yang tersebar dalam kehidupan ini. Semoga aku pun semakin mampu memantapkan diriku dan mengembangkan hal-hal baru dalam dunia kehidupanku. Amin.

Kelahiran baru
(goeng)

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: