Senin, 30 Juli 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Senin, 30 Juli 2018

Senin, 30 Juli 2018
by

Percikan Nas
Senin, 30 Juli 2018
Petrus Krisologus, Yustinus de Jakobis
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Yer. 13:1-11; MT Ul. 32:18-19,20,21; Mat. 13:31-35. BcO Ayb. 29:1-10; 30:1,9-23.

Nas Injil:
31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. 32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” 33 Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” 34 Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, 35 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”

Percikan Nas:
Suatu kali ada seorang ibu sederhana dipilih seorang imam untuk menjadi anggota tim pemberi kursus perkawinan. Ibu itu ditinggal mati suaminya pada saat anak-anaknya masih kecil. Ia berjuang membesarkan anak-anaknya sendirian sampai anak-anaknya tumbuh besar dan kuliah. Ibu itu merasa kecil dan tidak mampu. Namun imam tersebut tetap memintanya bukan karena kemampuan otaknya tapi pengalamannya sebagai singel parent. Dia pun menerima dan akhirnya menjadi pengajar di kursus perkawinan dan banyak calon manten menimba pengalamannya.
Yesus memberi perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi. Bacaan yang baru kita baca beberapa hari yang lalu. Di situ diterangkan bagaimana kerajaan surga itu bertumbuh dari kecil dan berangkat dari yang kecil dan membentuk sesuatu yang diharapkan. Ragi membentuk suatu adonan. Yang tampaknya kecil bila ditumbuhkan dan digunakan akan sangat berarti.
Mungkin kita pun sering merasa kecil dan tidak mampu. Hal itu makin terasa kalau harus menghadapi suatu tugas yang besar. Tidak sedikit yang tidak berani menerima tanggungjawab yang dipercayakan kepadanya. Bacaan hari ini menegaskan kepada kita bahwa sekecil apapun kalau kita hidupi dengan serius dan kita tumbuhkan akan menjadi daya yang berarti bahkan menimbulkan kekaguman. Maka kiranya kita bisa mengubah sikap dengan keyakinan bahwa walau kecil aku dipilih untuk karya Tuhan yang besar. Kecil tapi berdaya.

Doa:
Tuhan aku bersyukur karena Engkau menggunakanku sebagai alat-Mu. Bagimu tidak ada yang tidak berarti. Engkau memakaiku sebagai alat-Mu untuk mengerjakan karya-karya-Mu di dunia ini. Yakinkan hatiku untuk selalu menyadari bahwa Engkau menemaniku menjalankan tugas perutusan-Mu. Amin.

Kecil Berdaya.
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: