Selasa, 31 Juli 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Selasa, 31 Juli 2018

Selasa, 31 Juli 2018
by

Percikan Nas
Selasa, 31 Juli 2018
Peringatan Wajib St. Ignasius dr Loyola
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Yer. 14:17-22; Mzm. 79:8,9,11,13; Mat. 13:36-43; BcO Ayb. 31:1-23,35-37.

Nas Injil:
36 Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” 37 Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; 38 ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. 39 Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. 40 Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. 41 Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. 42 Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. 43 Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Percikan Nas:
Suatu kali di suatu kampung akan direncanakan pembangunan saluran got. Mereka sudah beberapa kali bertemu untuk membicarakan rencana pembangunan tersebut. Jalur saluran, konstruksi, bahan bangunan, anggaran, sistem pembangunan dll sudah mereka bahas dan sepakati. Lalu datang orang yang tidak pernah hadir dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya. Ia menyampaikan banyak usulan bahkan kritikan yang pernah dibahas. Warga yang lain jengah dengan sikapnya. Lalu sang pemimpin kampung berkata, “Bapak terimakasih, tapi mohon maaf semua yang bapak katakan sudah kami bahas sebelumnya. Data-datanya ada di notulen. Silakan nanti membaca notulen dahulu. Kita sudah melangkah jauh dari itu.”
Murid-murid Yesus merasa belum tahu dengan maksud perumpamaan yang diberikan Yesus. Mereka tidak sok tahu lalu menerangkan apalagi mengkritik. Mereka dengan rendah hati bertanya kepada Yesus. Yesus pun menanggapi mereka dengan baik dan menjelaskan maksud perumpamaan-Nya. Penjelasan tersebut membuat para murid paham dan kemudian bisa menyelaraskan hidup sesuai dengan pengajaran Yesus.
Kiranya dua hal di atas bisa menjadi bahan pembelajaran hidup kita. Untuk berbicara sesuatu kita perlu mengetahui apa yang kita bicarakan. Kalau memang belum tahu bisa bertanya dahulu pada yang sudah tahu. Bila kita sudah paham baru kita berbicara. Jangan sampai kita berbicara dan sebenarnya itu mempermalukan diri kita sendiri karena yang kita bicarakan malah menunjukkan kita tidak tahu apa yang sudah diketahui banyak orang dan salah. Datang, bertanya, mencari tahu tidak akan pernah merendahkan martabat kita.

Doa:
Tuhan dengan lembut hati Engkau menjelaskan arti pengajaran-Mu kepada para murid. Kami pun ingin hadir dan bertanya kepada-Mu. Sudilah Engkau memberi kejelasan pada kami atas sabda-sabda-Mu. Amin.

Datang dan bertanya.
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: