Selasa, 27 Februari 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Selasa, 27 Februari 2018

Selasa, 27 Februari 2018
by

Percikan Nas
Selasa, 27 Februari 2018
Gabriel dari Bunda Berdukacita
warna liturgi Ungu

Bacaan-bacaan:
Yes.1:10,16-20; Mzm. 50:8-9,16bc-17,21,23; Mat. 23:1-12. BcO Kel. 16:1-18,35.

Nas Injil:
1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 2 “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. 11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Percikan Nas
Kebanyakan orang pingin berkuasa atau mempunyai kekuasaan. Harta, tenaga, bahkan rasa malu pun sering dikorbankan demi mendapatkan kuasa. Ketika kuasa didapatkan maka ia mempergunakan kekuasaan tersebut untuk menguasai. Ada yang secara vulgar menunjukkan kekuasaannya, namun ada pula yang secara halus namun keji. Intinya semua orang mesti tunduk kepadanya. Tidak ada istilah melayani dalam kamusnya.
Tuhan memberi cara lain untuk berkuasa. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat 23:11). Setiap orang mesti mempunyai jiwa melayani. Mereka yang terbesar pun mesti menjadi pelayan. Semakin besar seseorang semakin besar pula tugas pelayanannya.
Memang menjadi pelayan sering dicap remeh oleh banyak orang. Namun kiranya jiwa pelayanan akan memperbesar nilai seseorang. Bagaimana nilai melayani di dalam dirimu?

Doa:
Tuhan semoga aku tidak hanya omong saja tetapi juga menjalani dan menghidupi omonganku. Moga jiwaku bukan jiwa menguasai, namun melayani.. Amin.
(goeng)

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: