Selasa, 22 Mei 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Selasa, 22 Mei 2018

Selasa, 22 Mei 2018
by

Percikan Nas
Selasa, 22 Mei 2018
Rita dr Cascia, Yoachina de Vedruna de Mas
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Yak. 4:1-10; Mzm. 55:7-8,9-10a,10b-11a,10b-11a,23; Mrk. 9:30-37. BcO 2Kor. 2:12-3:6.

Nas Injil:
30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; 31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” 32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. 33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” 34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. 35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” 36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: 37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Percikan Nas
Yesus menyampaikan berita sengsara kepada para murid. Para murid tidak mengerti maksud Yesus namun tidak ada yang berani bertanya. Maka Yesus pun mengajak mereka untuk memahami cara hidup yang mesti dilakukan sebagai murid-Nya yaitu dengan melayani dan menyambut anak-anak dalam nama-Nya. Mungkin para murid pun belum bisa menangkap maksud Yesus. Bisa jadi gambaran mereka mengikuti Yesus adalah mengikuti pemimpin besar. Sebagai pemimpin mengapa harus melayani? Mengapa mesti menerima anak kecil?
Dalam hidup ini kadang orang terpaku dengan status yang disandang. Status itu yang menentukan dirinya boleh melakukan sesuatu atau tidak. Misalnya seorang imam lalu merasa karena statusnya maka ia tidak layak untuk ikut angkut-angkut kursi di Gereja. Imam adalah pemimpin, tidak layak sebagai pemimpin kok usung-usung. Status telah mematri seseorang dan bisa jadi memenjarakannya.
Yesus mengajak kita keluar dari kekakuan pemikiran kita. Memang Ia sadar diri sebagai seorang pemimpin. Ia adalah pribadi besar. Namun Ia tidak ingin mengungkung kebesaran. Ia membuka mata orang bahwa kebesaran itu akan nyata dan makin kuat kalau mau melayani. Pemimpin yang melayani tidak akan menjatuhkan martabatnya. Sebaliknya martabatnya diangkat kala si pemimpin mau melayani.

Doa:
Tuhan semoga jiwaku untuk melayani tumbuh dan hidup. Kuatkanlah hatiku untuk membuka belenggu penjara menjaga image namun tak tergerak oleh kasih. Semoga kasihku lebih kuat dan mengalir menjadi berkat bagi banyak orang. Amin.

Melayani
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: