Selasa, 18 September 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Selasa, 18 September 2018

Selasa, 18 September 2018
by

Percikan Nas
Selasa, 18 September 2018
Yohanes Makias, Yosef dr Copertino
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
1Kor. 12:12-14,27-31a; Mzm. 100:2,3,4,5; Luk. 7:11-17. BcO Est. 4:1-16.

Nas Injil:
11 Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. 12 Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. 13 Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” 14 Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” 15 Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. 16 Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.” 17 Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Percikan Nas
Banyak orang merasa sedih dan kehilangan ketika orang yang dicintainya meninggal dunia. Kesedihan itu seringkali berulang ketika menyadari yang dicintai sudah tidak ada, atau ketika ada masalah dan yang biasa membantu sudah meninggal, atau karena kangen. Kerinduan akan kehadiran mereka yang telah meninggal selalu hidup.
Kesedihan itu bisa kita bayangkan dalam diri janda yang anaknya mati. Ia memupus segala harapannya dan mesti menghantar anak kesayangannya dimakamkan. Lunglai. Sedih. Merana. Ratapan tangislah yang mengalir di matanya. Sesak dada pun kadang menghimpit pernafasannya. Namun harapan baru datang kala Yesus hadir.
Mereka yang berduka menggerakkan orang yang mempunyai hati. Tidak ada orang yang akan sendiri samasekali kala berduka. Pasti ada yang menemani. Teman ini memberi harapan. Ketika kita melihatnya dengan jernih maka kita pun akan menemukan terang harapan tersebut. Kiranya boleh saya mengatakan bahwa semua orang boleh saja bersedih ditinggal orang yang dicintai namun tetep mesti percaya bahwa ada rahmat yang memberi harapan dan kebangkitan. Kita tidak pernah bener-bener sendirian.

Doa:
Tuhan Engkau selalu ada menemaniku. Kehadiran-Mu makin terasa kuat kala kami lagi berduka. Semoga kami pun peka menangkap kehadiran-Mu. Bantulah orang-orang yang masih diliputi kesedihan. Amin.

Tidak sendirian

September adalah Bulan Kitab Suci
“Ayo rajin baca Kitab Suci”
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: