Selasa, 12 Juni 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Selasa, 12 Juni 2018

Selasa, 12 Juni 2018
by

Percikan Nas
Selasa, 12 Juni 2018
Laurensius Maria Salvi, Fransiskus Kesy, Yohanes dr Sahagun, Hilarius Januszewski, Aleydis, Yolenta, Yohanes dr Sahagun, Ludovicus Nzyk, Stanislaus Kubista, Aloisius Liguda, Gregorius Frackowiak
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
1Raj. 17:7-16; Mzm. 4:2-3,4-5,7-8; Mat. 5:13-16. BcO Flp. 1:27-2:11.

Nas Injil:
13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. 16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Percikan Nas:
Sekarang ini kita mulai masuk dalam musim kemarau. Hujan sudah jarang sekali turun. Di beberapa tempat sawah sudah mulai kering. Ada yang mengairi sawahnya dengan air sumur panthek. Ada pula yang membiarkan padinya mati karena kekeringan. Di beberapa tempat pun mulai kesulitan air. Cuaca udara pun makin hari kok terasa makin panas.
Dalam Injil hari ini Yesus menyebut kita, “Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:14). Sebutan itu rasanya membawa muatan agar kita menjadi terang dunia. Sebagai orang Katolik kita dipanggil untuk menghadirkan terang bagi dunia.
Di awal tulisan ini saya membawa anda pada salah satu fakta yang kita temui pada musim kemarau. Musim ini akan selalu ada di bumi kita Indonesia setiap tahunnya. Kondisi kekeringan menjadi salah satu persoalan yang kita hadapi. Ada banyak lagi persoalan-persoalan yang ada di hadapan kita. Apa yang bisa kita perbuat? Bagaimana kita mewujudkan diri sebagai terang bagi dunia? Langkah-langkah apa yang bisa kita ambil untuk menjadi sang terang tersebut? Mungkinkah kita perlu menanam tanaman-tanaman yang bisa menahan dan menjaga air? Kita adalah terang dunia. Maka marilah kita menjadi terang yang menuntun banyak orang keluar dari kegelapan persoalan yang dihadapi.

Doa:
Tuhan, Engkau menyebut kami sebagai terang dunia. Sudilah Engkau menolong kami untuk menghadirkan diri sebagai terang yang mampu menghalau kegelapan kehidupan ini. Semoga kami pun sungguh bisa menjadi terang bagi dunia. Amin.

Terang Dunia
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: