Selasa, 01 Mei 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Selasa, 01 Mei 2018

Selasa, 01 Mei 2018
by

Percikan Nas
Selasa, 01 Mei 2018
St. Yusuf Pekerja
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 14:19-28; Mzm. 145:10-11,12-13ab,21; Yoh. 14:27-31a. BcO Kis. 17:19-34.

Nas Injil:
27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. 28 Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. 29 Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. 30 Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku. 31 Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini.”

Percikan Nas
Hari-hari ke depan anak-anak SMA dan SMP akan memulai berpisah dengan teman-teman seangkatannya. Pengalaman mereka 3 tahun bersama-sama memberi kenangan tersendiri bagi hidup mereka. Karenanya perspisahan sering membawa mereka dalam rasa haru. Tidak jarang muncul pertanyaan apakah mereka bisa bertemu lagi.
Yesus pun akan meninggalkan para murid. Ia akan kembali kepada Bapa. Hati para murid pun sedih. Namun Yesus mengajak mereka untuk tegar dan gembira menerima itu karena Ia akan kembali kepada Bapa. Ia pun berjanji akan datang lagi untuk menemui mereka.
Perpisahan memang menyisakan kepedihan. Namun kita harus mengalami aneka macam perpisahan di dalam hidup kita. Kadang perpisahan itu memang harus terjadi supaya mereka yang berpisah berkembang bersama-sama. Anak sekolah tidak bisa bersama-sama terus. Mereka harus siap menjadi mandiri. Para murid pun harus mandiri menghadapi dunia dan ditinggalkan Yesus. Kita mesti tetap semangat dan mempunyai harapan kala itu terjadi. Dunia selalu terasa terang pada mereka yang mempunyai harapan.

Doa:
Tuhan aku percaya rahmat-Mu mencukupi bagiku untuk mengarungi hidup ini. Banyak jalan yang Kaubukakan bagi langkahku. Engkau tidak pernah meninggalkanku sama sekali. Aku percaya pada perlindungan-Mu. Amin.

Dunia Harapan
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: