Sabtu, 28 Juli 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Sabtu, 28 Juli 2018

Sabtu, 28 Juli 2018
by

Percikan Nas
Sabtu, 28 Juli 2018
Yohanes Soret
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Yer. 7:1-11; Mzm. 84:3,4,5-6a,8a,11; Mat. 13:24-30. BcO Ayb. 23:1-24:12.

Nas Injil:
24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. 25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. 26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. 27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? 28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? 29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. 30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

Percikan Nas:
Banyak perkumpulan hadir dan berusaha menawarkan kebaikan bagi masyarakat. Mereka berjuang mati-matian untuk menabur dan menanam hal-hal positif bagi kehidupan bersama. Dan terasa apa yang mereka usahakan. Namun selalu ada juga kelompok lain yang ingin merusak usaha tersebut dengan berbagai cara. Kelompok ini sering bekerja secara sembunyi-sembunyi tapi juga bergerak secara terbuka tanpa malu.
Tuhan memberikan perumpamaan tentang gandum dan ilalang. Dua tumbuhan ini menjadi hidup bersama karena musuh menaburkan benih ilalang di ladang gandum. Mereka dibiarkan tumbuh bersama karena kalau dicabut malah bisa mencabut gandumnya. Pada saatnya mereka akan dipisahkan.
Memang rasa hati kadang jengkel kala sudah berbuat banyak hal agar terjadi kehidupan yang baik lalu ada orang yang mengganggu. Belajar dari Tuhan nampaknya kita pun harus sanggup berada bersama dengan pribadi seperti itu. Keberadaannya selalu nyata dalam kehidupan ini. Kita tidak bisa menolak. Kita hanya bisa menerima dan mendoakan agar ia berubah. Pada saatnya Tuhan yang akan menentukan tindakan.

Doa:
Tuhan mampukanlah aku hidup bersama, bahkan kala harus berdampingan dengan yang jahat. Semoga aku kuat dan mampu menaburkan rahmat kasih-Mu. Kami berdoa untuk mereka yang bertindak jahat agar bertobat dan berbalik kepada-Mu. Amin.

Hanya menerima
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: