Sabtu, 16 Juni 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Sabtu, 16 Juni 2018

Sabtu, 16 Juni 2018
by

Percikan Nas
Sabtu, 16 Juni 2018
Lutgardis, Anicetus Koplin, Yohanes Fransiskus Regis
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
1Raj. 19:19-21; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10; Mat. 5:33-37. BcO Flp. 4:10-23.

Nas Injil:
33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, 35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; 36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. 37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Percikan Nas:
Sumpah mengandung konsekuensi yang tinggi. Mereka yang bersumpah mempunyai kewajiban untuk memenuhi sumpahnya. Ketika sumpah yang disampaikan untuk kebaikan semua orang mungkin masih baik, namun ketika sumpah hanya untuk menyenangkan pendukung atau karena kebencian maka akan berakibat buruk.
Dalam aneka kampanye kita sering mendengar sumpah yang berwujud janji-janji. Ketika dirinya terpilih dia mempunyai beban moral untuk memenuhi janjinya. Terasa sekali kala sumpah yang diucapkannya hanya demi kesenangan para pendukung maka kala berkuasa ia pun akan mengambil kebijakan-kebijakan untuk memenuhi sumpahnya. Tidak jarang kebijakannya pun mempunyai kemungkinan akan menabrak peraturan perundangan yang ada. Kalau didasari kebencian maka ia akan menyalahkan kebijakan orang yang dibenci, bahkan kala kesalahan karena kebijakannya.
Tuhan melarang kita bersumpah. Bagi-Nya, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37). Ya dan tidak atas sesuatu kita sampaikan dengan jujur dan berdasar pada kemampuan kita bisa menjalankan atau tidak. Jangan katakan Ya kalau kita tidak bisa menjalankan. Mari kita tegas dengan sikap kita dan tindakan kita. Kita perlu tegas dengan diri kita, jangan hanya tegas dengan orang lain tapi mlempem dengan diri sendiri. Apalagi kala kita menjadi pemimpin.

Doa:
Tuhan semoga aku sungguh bisa mewujudkan apa yang aku iyakan. Semoga aku pun mempunyai kerendahan hati untuk mengikuti aturan yang ada. Jangan biarkan diriku menabrak aturan kala ingin merasa nyaman dan enaknya sendiri serta ingin menyenangkan orang lain. Amin.

Ya atau Tidak.
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: