Sabtu, 10 Maret 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Sabtu, 10 Maret 2018

Sabtu, 10 Maret 2018
by

Percikan Nas
Sabtu, 10 Maret 2018
Hari Biasa Pekan III Prapaskah
warna liturgi Ungu

Bacaan-bacaan:
Hos. 6:1-6; Mzm. 51:3-4,18-19,20-21ab; Luk. 18:9-14. BcO Kel. 40:16-38.

Nas Injil:
9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Percikan Nas
Bekerja di ladang Tuhan memang suatu rahmat. Tidak semua orang mempunyai waktu untuk itu. Namun tidak sedikit orang begitu sibuk tetap merelakan diri untuk terlibat. Panggilan hati menentukan sikap seseorang. Bagi mereka yang merelakan diri menyadari bahwa tugas semacam ini bukan demi kepentingannya sendiri tapi terlebih untuk pelayanannya. Meski banyak yang telah dikerjakan namun ia sering merasa belum berkarya apa pun. Sebaliknya orang yang berusaha mencari nama belum bekerja apa-apa pun sudah merasa terhebat. Ia gampang merasa dilangkahi daripada membangun koordinasi. Tidak jarang menganggap yang lain tidak lebih baik darinya.
Tuhan lebih memuji pemungut cukai yang sadar kedosaannya di hadapan Tuhan daripada orang Farisi yang merasa jauh lebih suci. Kesadaran akan kelemahannya mengangkat dirinya di hadapan Allah. Kesombongan dan keangkuhan Farisi menenggelamkan jatidirinya. Kiranya kita pun patut menyadari bersama bahwa ada aneka kelemahan dalam diri kita. Dalam kelemahan kita mengabdi di jalan Tuhan. Kita bersama-sama saling memberikan diri yang meneguhkan. Tuhan akan menguatkan kita.

Doa:
Tuhan semoga aku tidak jadi angkuh karena pengalaman, pengetahuan dan jabatanku. Semoga aku bisa menggunakan semua rahmat-Mu untuk lebih bisa melayani. Jauhkan diriku dari keinginan untuk menghakimi. Amin.
(goeng)

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: