Rabu, 06 Juni 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Rabu, 06 Juni 2018

Rabu, 06 Juni 2018
by

Percikan Nas
Rabu, 06 Juni 2018
Norbertus
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
2Tim. 1:1-3,6-12; Mzm. 123:1-2a,2bcd; Mrk. 12:18-27. BcO Gal. 3:15-4:7.

Nas Injil:
18 Datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: 19 “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. 20 Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. 21 Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. 22 Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati. 23 Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.” 24 Jawab Yesus kepada mereka: “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. 25 Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. 26 Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? 27 Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!”

Percikan Nas
Orang Saduki biasa dengan pemikiran tidak ada kebangkitan sesudah kematian. Pemikiran ini sudah menjadi paham hidup mereka. Maka kala ada yang percaya pada kebangkitan maka mereka heran, risau dan akan selalu mempertanyakan. Jawaban apapun sulit mengubah pemikiran mereka. Namun Yesus mampu membungkam pemikiran mereka.
Memang tidak mudah mengubah pemikiran dan kebiasaan seseorang. Para aktivis tani organik butuh waktu yang sangat panjang untuk meyakinkan perlunya pertanian organik. Mengubah orang yang biasa belanja tanpa bukti transaksi untuk selalu menyertakan bukti transaksi pun tidak mudah. Kata yang sering muncul adalah, “Kamu tidak percaya?” Percaya atau tidak percaya bukti-bukti tersebut diperlukan bagi transparansi dan akuntabilitas. Namun kalau tetep mengeluh karena merasa tidak dipercaya ya rasanya boleh saja dibilang: sori memang tidak percaya… he he he.
Banyak kebenaran di luar kebiasaan kita. Kita perlu membuka diri terhadap kebenaran-kebenaran tersebut. Kita akan menjadi miskin kala hanya berkutat pada pemikiran pribadi kita. Memang butuh hati yang legawa untuk menerima dan melakukan sesuatu yang tidak biasa kita lakukan. Kadang perlu kerendahan hati untuk menerima yang berbeda dengan kebiasaan pribadi kita.

Doa:
Tuhan kuatkan semangat rendah hatiku untuk mengakui kebenaran yang berbeda dengan kebiasaanku. Semoga aku mampu melihat kebaikan dan kebenaran dengan hati jernih dan tidak memaksakan kehendak pribadiku. Amin.

Terbuka pada kebenaran.
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: