Rabu, 05 September 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Rabu, 05 September 2018

Rabu, 05 September 2018
by

Percikan Nas
Rabu, 05 September 2018
Teresa dr Kalkuta, Maria Magdalena Starace
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
1Kor. 3:1-9; Mzm. 33:12-13,14-15,20-21; Luk. 4:38-44. BcO 2Tim. 1:1-18.

Nas Injil:
38 Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. 39 Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. 40 Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. 41 Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: “Engkau adalah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. 42 Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. 43 Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” 44 Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

Percikan Nas:
Tentu para pembaca Percikan Nas tahu tentang ibu Teresa dari Kalkuta. Ia kita kenal dengan istilah Mother Teresa. Hatinya yang lembut tergerak untuk melayani orang miskin di Kalkuta. Banyak orang pun merasakan kasih dari sentuhan tangannya dan orang-orang yang membantunya. Cintalah yang ia curahkan kepada mereka. Cinta itu pula yang menggerakkan hidupnya.
Cinta Tuhan kepada manusia menggerakkan-Nya untuk hadir di hadapan manusia dalam diri Yesus. Yesus pun mengalirkan cinta pada manusia terutama yang membutuhkan. Ia pun mesti bergerak ke berbagai tempat untuk menyapa banyak orang. “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 5:43).
Cinta menggerakkan dan menghidupkan. Setiap orang yang mempunyai cinta akan selalu dihidupkan oleh cintanya. Ia akan bergerak untuk mengalirkan cinta. Pergerakkannya tersebut membangkitkan daya hidupnya. Mari perkuat cinta kita.

Doa:
Tuhan tumbuhkanlah cinta kami. Semoga karena cinta-Mu kepada kami, cinta kami pun hidup. Hidupkanlah pula cinta umat manusia pada umumnya. Semoga dunia kami tumbuh karena dan dalam cinta. Amin.

Menghidupkan cinta

September adalah Bulan Kitab Suci
“Ayo rajin baca Kitab Suci”
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: