Minggu, 16 September 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Minggu, 16 September 2018

Minggu, 16 September 2018
by

Percikan Nas
Minggu, 16 September 2018
Hari Minggu Biasa XXIV
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Yes. 50:5-9a; Mzm. 116:1-2,3-4,5-6,8-9; Yak. 2:14-18; Mrk. 8:27-35. BcO Est. 1:1-3,9-16,19; 2:5-10,16-17

Nas Injil:
27 Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Kata orang, siapakah Aku ini?” 28 Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.” 29 Ia bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias!” 30 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia. 31 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. 32 Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. 33 Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” 34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. 35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.

Percikan Nas
Suatu kali ada sekumpulan orang terpelajar muda datang mengajukan permohonan bantuan untuk korban banjir. Bantuan itu ada. Sang pemilik bantuan siap memberikan bantuan dengan beberapa persyaratan administratif. Setelah melihat persyaratannya mereka mundur. Alasannya persyaratan itu berat. Padahal persyaratan itu diadakan demi menjaga transparansi dan akuntabilitas.
Petrus mengenali Yesus sang Mesias. Namun ia kemudian menolak kalq Yesus mengisahkan mesianitas-Nya yang bersengsara dan berduka. Ia malah menegur Yesus. Tuhan sadar suara itu adalah suara setan dalam diri Petrus. Tuhan pun mengusir Iblis tersebut.
Memang orang sering pingin gampangnya saja. Tidak sedikit yang menghindari hal-hal yang dianggap berat dan rumit. Namun sebenarnya kalau semua prosedur dijalankan dengan baik dan benar maka yang rumit itu akan menjadi sangat sederhana. Kita tidak perlu takut mengarungi jalan sengsara dan berduka. Melalui jalan salib itu kita akan menemui kebangkitan.

Doa:
Tuhan jalan-Mu memang sering terasa berat. Tidak mudah dilalui oleh hidup yang tak mau berjuang. Hanya mereka yang mmau berjuang akan menemukan kebangkitan. Semoga aku mampu menjalani jalan salibku demi menuju kebangkitan. Amin.

Jalan salib

September adalah Bulan Kitab Suci
“Ayo rajin baca Kitab Suci”
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: