Minggu, 15 Juli 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Minggu, 15 Juli 2018

Minggu, 15 Juli 2018
by

Percikan Nas
Minggu, 15 Juli 2018
Hari Minggu Biasa XV
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Am. 7:12-15; Mzm. 85:9ab,10,11-12,13-14; Ef. 1:3-14 (Ef. 1:3-10); Mrk. 6:7-13. BcO Ayb. 1:1-22.

Nas Injil:
7 Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, 8 dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan, 9 boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. 10 Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: “Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. 11 Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” 12Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, 13 dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

Percikan Nas:
Sampai hari ini sebagian dari para lulusan SMA masih berusaha mencari perguruan tinggi yang dipilih. Mereka telah lulus dari sekolah. Mereka dianggap siap untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun bukan berarti semua bisa berlangsung dengan gampang. Masih banyak perjuangan yang harus dilewati.
Para murid diutus Yesus untuk berdua-dua mewartakan kerajaan Allah sudah dekat. Mereka diberi kuasa oleh Tuhan untuk mengusir setan dan menyembuhkan penyakit. Namun demikian tidak semuanya akan berjalan mulus. Mereka tetap harus berjuang agar warta yang dibawa bisa diterima. Ada kemungkinan mereka akan ditolak.
Perjuangan hidup akan kita jalani sampai akhir hidup kita. Diterima atau pun ditolak akan menjadi bagian dalam sejarah hidup kita. Diperlukan doa dan matiraga agar apa yang menjadi tugas kita bisa berjalan. Kadang tidak cukup mengandalkan kecakapan kita. Walau kita cakap tetap diperlukan usaha dan doa dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita terbuai oleh rasa cakap lalu bermalas-malasan.

Doa:
Tuhan terima kasih atas rahmat kecakapan yang telah Kauberikan kepadaku. Semoga aku tidak menjadi sombong dan bermalas-malasan. Bangkitkanlah dayaku untuk semangat berjuang dan berusaha. Amin.

Masih berjuang
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: