Minggu, 09 September 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Minggu, 09 September 2018

Minggu, 09 September 2018
by

Percikan Nas
Minggu, 09 September 2018
Hari Minggu Biasa XXIII
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Yes. 35:4-7a; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37. BcO 2Ptr. 1:1-11

Nas Injil:
31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. 32 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. 33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. 34 Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! 35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. 36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. 37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

Percikan Nas:
Suatu kali ada seorang yang berpakaian lusuh datang ke showroom mobil. Banyak penjaga yang enggan menemuinya. Namun ada seorang penjaga cantik melayani bapak itu dengan sabar dan baik. Segala permintaan bapak itu dia sediakan. Ia menghormati bapak itu sebagaimana ia menghormati para calon pembeli yang lain. Tanpa diduga bapak itu membeli beberapa mobil dan minta supaya semua ditangani gadis tersebut. Ia pun tidak lupa memberi hadiah pada gadis tersebut.
Orang-orang dari daerah Dekapolis datang dan memohon agar Yesus berkenan menjamah saudaranya yang bisu tuli. Mereka menaruh hormat kepada Yesus dan percaya pada Yesus. Yesus pun menanggapi penghormatan mereka dengan positif. Ia menyembuhkan si bisu tuli. Tanggapan Yesus ini pun membuahkan penghormatan yang lebih lagi dalam diri orang-orang tersebut, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk 7:37).
Ketika penghormatan kita berikan maka kita pun akan menerima penghormatan walau tidak minta. Namun kalau kita tidak pernah menghormati orang lain dan cenderung meremehkan, kita akan sulit mendapatkan penghormatan tulus, walau kita minta untuk dihormati. Rasa hormat sederhana ditunjukkan oleh gadis yang melayani dengan tulus pembeli lusuh, orang-orang yang datang dan memohon pada Yesus.

Doa:
Tuhan Engkau tidak meminta kami menghormati-Mu. Kebaikan dan kasih-Mu yang menjadikan kami hormat kepada-Mu. Semoga dalam diri kami pun selalu ada rasa hormat kepada sesama kami, siapapun mereka. Jauhkan kami dari sikap sombong dan perasaan sebagai orang terhormat. Amin.

Berkah penghormatan

September adalah Bulan Kitab Suci
“Ayo rajin baca Kitab Suci”
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: