Minggu, 08 Juli 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Minggu, 08 Juli 2018

Minggu, 08 Juli 2018
by

Percikan Nas
Minggu, 08 Juli 2018
Hari Minggu Biasa XIV
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Yeh. 2:2-5; Mzm. 123:1-2a,2bcd,3-4; 2Kor. 12:7-10; Mrk. 6:1-6. BcO Ams. 1:1-7,20-33.

Nas Injil:
1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. 2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? 3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. 4 Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” 5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. 6 Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. (6-6b) Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

Percikan Nas:
Di bulan-bulan ini ada beberapa kali tahbisan imam di Keuskupan Agung Semarang. Ada sekian puluh pemuda yang menyerahkan diri dan menerima sakramen imamat. Para imam baru ini mempunyai sebutan neomis. Mereka pun biasanya lalu berkeliling untuk mengadakan misa perdana di rumahnya dan di paroki atau juga tempat yang pernah ditinggali. Sekalipun di rumah sendiri umat dan keluarga pun antusias menyambutnya. Semua keluarga dan tetangga dengan sukarela mempersiapkam dan menyambut sang imam baru.
Situasi berbeda dialami oleh Yesus. Para tetangganya mempertanyakan kewenangan Yesus dalam mengajar. Mereka meremehkan Yesus karena merasa Yesus hanyalah seorang tukang kayu. Mereka kenal siapa Yesus. Tapi pengenalan ini untuk menolak Yesus.
Sikap syukur yang diterima paea neomis berbanding terbalik dengan penolakan terhadap Yesus. Sikap syukur membuat segala sesuatu yang diperlukan tersedia. Penolakan menyingkirkan mukjijat yang semestinya bisa dialami. Maka marilah kita selalu mensyukuri hidup ini. Syukur kita atas hidup membuat segala sesuatu menjadi berkat. Penolakan membuat segalanya terasa bagai kutuk.

Doa:
Tuhan terima kasih atas anugerah yang Kauberikan bagi keluarga kami. Kami bersyukur atas kekayaan kemampuan yang ada dalam anggota keluarga kami. Semoga kehadiran kami menjadi berkat bagi kehidupan. Amin.

Syukur vs penolakan.
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: