Kasih diantara Valentine dan Rabu Abu – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Kasih diantara Valentine dan Rabu Abu

Kasih diantara Valentine dan Rabu Abu
by

Dalam Our Daily Bread Ministries dikisahkan, suatu saat ada tiga anak kecil yang ditanya perihal “kasih”.  “Apakah kasih itu?” Noele, usia 7 tahun, berkata, “Kasih itu adalah saat seorang wanita bilang ia menyukai baju seorang pria, dan pria itu memakai baju itu setiap hari.” Rebecca, usia 8 tahun, menjawab, “Sejak nenek mengidap radang sendi, ia tak bisa membungkuk untuk mengecat kuku kakinya. Jadi kakek yang melakukannya setiap saat, bahkan setelah tangan kakek juga terkena radang sendi. Itu namanya kasih.” Jessica, yang juga berusia 8 tahun, menyimpulkan, “Jangan berani bilang ‘Aku sayang kamu’ kecuali kamu memang sungguh-sungguh. Jika kamu sungguh-sungguh sayang, katakan itu berulang-ulang. Orang itu gampang lupa.”

Bulan Februari ini merupakan bulan spesial yang berkaitan dengan “kasih”. Ada momen besar di sana, yaitu Hari Kasih Sayang atau lebih populer dengan sebutan Valentine Day dan mulainya masa pertobatan kita yang ditandai dengan Rabu Abu. Kebetulan, kedua-duanya dirayakan dalam waktu yang bersamaan pada Rabu, 14 Februari 2018.

Valentine, pada dasarnya merupakan perayaan yang sangat baik. Bagaimana orang menyatakan ungkapan kasihnya menggunakan mawar, coklat, maupun kado lainnya. Setiap pribadi membutuhkan relasi harmonis, mengasihi dan dikasihi, karena memang itulah kodrat humanisnya.

Meskipun demikian, alih-alih dari situasi saat ini, momen kasih itu banyak beralih menjadi momen penginjakan harkat dan nurani manusiawi itu sendiri. Dengan berdalih pembuktian “kasih” seseorang memaksa pasangannya untuk berhubungan seks. Dengan pembenaran kata “kasih” seseorang ingin populer dengan seolah peduli pada kaum lemah. Agar terpilih menjadi pejabat publik, seseorang memberi bantuan sembako dengan alasan berbuat kasih. Dengan alasan kasih, kita memberikan contekan kepada teman. Dengan alasan kasih, kita membela kelompok kita dan memerangi kelompok lain. Dan yang paling menyedihkan, dengan alasan membela dan perwujudan kasih kepada Tuhan, kita menyingkirkan ciptaan Tuhan yang lain yang kebetulan tidak sepaham dengan kita.

Pertanyaan reflektif kita, benarkah itu semuanya karena kasih? Jika itu kasih, mengapa ada orang yang harus tersakiti dan termarginalkan? Jangan-jangan itu semua karena arogansi antroposentris dan egoisme kita semata. Lalu bagaimana kita bisa menakar kasih tersebut?

Kita bisa belajar dari Santo Paulus untuk mendefinisikan kasih. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.  Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.

Bulan ini kita juga merayakan Rabu Abu guna memasuki masa prapaskah. Masa dimana ada pertobatan kita. Pertobatan adalah wujud kasih. Wujud kasih kita kepada Tuhan. Kita butuh bertobat karena kadang kita tidak menanggapi kasih Tuhan dan bahkan mempertanyakannya. Kita terlalu sering hanya fokus memikirkan kesulitan yang kita alami dan menyusun pertanyaan, di mana kasih itu?

Namun ketika kita berhenti sejenak, diam, hening, dan merenungkan semua yang telah Tuhan lakukan, kita ingat betapa kita telah begitu dikasihi Tuhan, karena Dia adalah kasih itu sendiri. Mazmur 103 menuliskan menu lezat bernama “berkat kasih” yang dicurahkan Tuhan kepada kita: Dia mengampuni segala dosa kita, memuaskan kita dengan kebaikan, menjalankan keadilan dan hukum. Dia panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Dia tidak melakukan kepada kita setimpal dengan derosa kita dan telah menjauhkan pelanggaran kita sejauh timur dari barat.
Dia tidak melupakan kita! Dalam kegembiraan dan kedukaan kita, Dia selalu hadir.

Maka tepat kiranya dua perayaan kasih tersebut berada dalam waktu yang bersamaan. Melalui Valentine kita diingatkan untuk mengasihi sesama secara tulus dan benar. Melalui Rabu Abu dan Masa Prapaskah, kita diingatkan untuk kembali menyadari Kasih Tuhan dengan dengan tulus membalas kasihnya itu. Dan yang pasti, seperti Surat Gembala Prapaskah 2018, kita diajak mengasihi dengan kata dan perbuatan.

Selamat merayakan kasih, Tuhan memberkati…

r arifin nugroho

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: