Kamis, 8 Februari 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Kamis, 8 Februari 2018

Gereja Katolik menghormati Santo Hieronimus Emilianus sebagai perlindung anak-anak yatim piatu dan gelandangan.
by

Percikan Nas
Kamis, 8 Februari 2018
Hieronimus Emilianus, Yosefina Bakhita
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
1Raj. 11:4-13; Mzm. 106:3-4,35-36,37,40; Mrk. 7:24-30. BcO Kej. 44:1-20,30-34.

Nas Injil:
24 Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. 25 Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. 26 Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. 27 Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” 28 Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” 29 Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” 30 Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.

Percikan Nas
Suatu kali aku termenung dan duduk terdiam kala harus mengambil langkah yang tidak biasa kulakukan. Salah satu yang terus mengusik adalah apa aku perlu meminta kepada umat untuk turut mendukung finansial paroki yang lagi dalam kondisi tidak mudah. Hal ini belum pernah kulakukan. Namun hal tersebut terasa kudu dilakukan.
Bacaan Injil hari ini menguatkanku untuk melakukannya. Bagai si perempuan yang tidak tahu malu demi kesembuhan anaknya, kiranya aku juga tidak perlu malu demi hadirnya nafas hidup bagi paroki ini. Maka ke beberapa orang dan lingkungan yang kukunjungi aku pun menyampaikan kondisi yang ada, butuh bantuan oksigen dan kemakluman banyak pihak.
Kiranya remah-remah Tuhan itu pun bisa didapatkan dan mengurangi rasa “perut lapar” yang ada. Demi kehidupan Gereja aku tidak perlu malu-malu lagi. Bagaimana dengan anda?

Doa:
Bapa aku percaya walau hanya makan dari remah-remah roti-Mu aku akan dikenyangkan. Anugerahkanlah itu kepadaku. Amin.
(goeng)

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: