Kamis, 22 Maret 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Kamis, 22 Maret 2018

Kamis, 22 Maret 2018
by

Percikan Nas
Kamis, 22 Maret 2018
Hari Biasa Pekan V Prapaskah
warna liturgi Ungu

Bacaan-bacaan:
Kej. 17:3-9; Mzm. 105:4-5,6-7,8-9; Yoh. 8:51-59. BcO Bil. 20:1-13; 21:4-9.

Nas Injil:
51 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” 52 Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. 53 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?” 54 Jawab Yesus: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, 55 padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya. 56 Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” 57 Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” 58 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” 59 Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.

Percikan Nas
Suatu kali ada orang yang sangat aktif dan kreatif membantu kegiatan-kegiatan Gereja. Kehadirannya sangat memberi warna bagi kehidupan Gerejanya. Orang-orang pun banyak menaruh harapan kepadanya. Tanpa disadari orang itu pun jadi terlena. Ia merasa bahwa kehidupan Gereja terjadi karena dirinya. Keakuannya makin hari makin kuat. Orang-orang pun makin hari makin jengah dengan orang tersebut dan banyak rasan-rasan tentang orang itu.
Yesus bersabda, “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku” (Yoh 8:54). Ia menyadari bahwa kemuliaan-Nya berasal dari Bapa. Dalam kesatuan dengan Bapa itulah kemuliaan-Nya mendapatkan arti dan bermakna.
Karya pelayanan di Gereja adalah karya dari dan untuk Tuhan. Mereka yang mau berkarya di Gereja adalah orang-orang yang terpanggil oleh kasih Tuhan. Karya ini pun karya pelayanan, bukan birokratis dan otoritarian. Karya ini akan bertumbuh dan berkembang dengan baik kala menempatkan Tuhan di dalam diri, Tuhan yang berkarya, melebihi kepentingan diri (keakuan) dan kelompok. Tuhanlah yang hidup, menghidupkan sekaligus diwartakan.

Doa:
Tuhan hadir dan tinggallah di dalam diri kami. Semoga kami bisa selalu menghadirkan nama-Mu dalam karya pelayanan kami di Gereja-Mu. Amin.
(goeng)

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: