Kamis, 14 Juni 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Kamis, 14 Juni 2018

Kamis, 14 Juni 2018
by

Percikan Nas
Kamis, 14 Juni 2018
Elisa Nabi, Gerardus
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
1Raj. 18:41-46; Mzm. 65:10abcd,10e-11,12-13; Mat. 5:20-26. BcO Flp. 3:1-16.

Nas Injil:
20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Percikan Nas:
Sekarang ini kita sering mendengar seseorang menilai orang lain jahat. Bahkan kosa kata itu seakan menjadi kosa kata yang sangat ringan untuk diucapkan siapa pun. Suatu kali aku pun kaget ketika seorang anak mengatakan, “Bapak jahat!” Pada temannya pun juga sering terdengar kata-kata, “Kamu jahat!” Bagi saya pribadi kata jahat itu mempunyai kesan yang sangat dalam dan keras. Saya heran mengapa kat itu sekarang seakan menjadi pilihan latah dalam percakapan biasa.
Tuhan pun menegaskan kepada kita, “siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Mat 5:22). Sebutan jahil pun sudah membawa konsekuensi yang sangat berat. Nah sekarang malah kata jahat malah seakan menjadi kata yang sangat ringan diucapkan.
Kiranya kita memang perlu cermat dalam memilih kata dan penilaian atas orang lain. Tuhan mengajak kita untuk tidak gampang menghakimi orang lain. Sebenarnya kata-kata yang menguatkan dan meneguhkan jauh lebih ringan diucapkan daripada kata-kata penghakiman. Maka kiranya kita pun bisa menjadi pioner untuk berkata positif pada sesama kita, hadir membawa damai dan saling menguatkan dalam kebaikan.

Doa:
Tuhan limpahkanlah daya kebaikan di hat umat-Mu. Semoga umat-Mu hidup dan menyejarah dalam kebaikan. Tuntunlah tutur kata mereka agar dihiasi oleh kata-kata baik yang meneguhkan dan menguatkan. Amin.

Pioner kata positif.
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: