Kamis, 12 April 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Kamis, 12 April 2018

Kamis, 12 April 2018
by

Percikan Nas
Kamis, 12 April 2018
Hari Biasa Pekan II Paskah
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3:31-36. BcO Kis. 7:1-16.

Nas Injil:
31 Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. 32 Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya itu. 33 Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. 34 Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. 35 Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. 36 Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

Percikan Nas
Kesaksian bisa ditangkap dalam beberapa sikap. Ada orang gampang menerima kesaksian. Ada yang terharu. Ada yang berubah. Namun ada pula yang skeptis bahkan tidak percaya dengan kesaksian. Memang umumnya orang yang bersaksi mempunyai pengalaman yang khas dan mewujud dalam bahasa yang khusus pula. Situasi yang serba khusus ini bisa memikat dan bisa juga membuat tidak percaya. Hati yang terbuka dan nyambung memudahkan kita menangkap suatu kesaksian.
Tuhan menyampaikan banyak hal yang Dia bawa dari atas, dari sorga. Sebenarnya hal itu adalah sesuatu yang sangat kita perlukan. Namun seringkali kita tidak mudah menerimanya. Sering muncul ungkapan: mudah dikatakan sulit dilakukan. Sabda Tuhan mudah didengar namun sulit dimengerti dunia. Dunia sulit mengerti, salah satunya karena dunia sudah berada dalam jalannya sendiri. Seringkali jalan itu tidak selaras dengan kehendak-Nya.
Sabda Tuhan akan mudah dimengerti dan dijalankan kala penerima sabda mau menyamakan frekuensi dengan sabda tersebut. Kala gelombang radio tepat maka siaran yang kita terima pun jernih. Maka kiranya mari kita selalu berusaha menyamakan frekuensi kita dengan gelombang yang dikirimkan Tuhan.

Doa:
Tuhan bantulah aku untuk mengenali sabda-Mu. Semoga aku bisa selalu tepat menangkap gelombang sabda yang Kaukirimkan kepadaku. Dan semoga aku pun bisa menjadi pemancar sabda-Mu. Amin.

Menangkap frekuensi Tuhan
(goeng)

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: