Kamis, 06 September 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Kamis, 06 September 2018

Kamis, 06 September 2018
by

Percikan Nas
Kamis, 06 September 2018
Bonaventura dari Forli
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
1Kor. 3:18-23; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 5:1-11. BcO 2Tim. 2:1-21

Nas Injil:
1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. 4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” 5 Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” 6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. 8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” 9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Percikan Nas:
Bagi kita sangatlah biasa melihat pertandingan bulu tangkis. Kita pun baru merasakan hangatnya pertandingan tersebut di ajang Asian Games. Kala kita saksikan seseorang sering mendapatkan poin karena pukulan-pukulan yang mematikan. Pukulan mematikan tersebut sering merupakan pukulan di luar kebiasaan, yang tak terduga oleh lawan.
Para murid semalam-malaman menjala ikan. Tidak ada satu pun ikan mereka tangkap. Pagi siang itu Yesus mengajak mereka ke tempat yang dalam. Ini aneh. Pagi siang Yesus mengajak menjala ikan. Biasanya para nelayan menjala di malam hari. Namun para murid mengikuti cara di luar kebiasaan ini. Mereka pun menangkap ikan dalam jumlah yang menakjubkan.
Dalam hidup ini kita pun kadang perlu untuk melakukan sesuatu di luar kebiasaan. Tidak cukup kita hanya melakukan dengan cara-cara biasa. Ada banyak kesempatan yang membutuhkan cara di luar kebiasaan. Memang tidak semua hal bisa diselesaikan dengan cara tidak biasa, namun cara tidak biasa kadang diperlukan untuk mengatasi persoalan tertentu.

Doa:
Tuhan semoga aku mempunyai kecerdasan untuk mengatasi kebuntuan hidup. Semoga cara-cara di luar kebiasaan hadir dalam diriku untuk mengurai sesuatu yang terasa buntu. Amin.

Di luar kebiasaan

September adalah Bulan Kitab Suci
“Ayo rajin baca Kitab Suci”
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: