Jumat, 9 Februari 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Jumat, 9 Februari 2018

Jumat, 9 Februari 2018
by

Percikan Nas
Jumat, 9 Februari 2018
Hari Biasa
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
1Raj. 11:29-32; 12:19; Mzm. 81:10-11ab,12-13,14-15; Mrk. 7:31-37. BcO Kej. 45:1-15,21b-28; 46:1-7.

Nas Injil:
31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. 32 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. 33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. 34 Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! 35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. 36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. 37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

Percikan Nas
Tidaklah mudah menyuruh orang diam dan tidak menceritakan apa yang dia lihat dan dengar. Semakin disuruh diam mereka akan semakin tidak tahan untuk tidak menceritakan. Orang-orang yang melihat Yesus menyembuhkan orang dari sakit bisu tuli tidak bisa tidak menceritakan apa yang mereka lihat (Mrk 7:36-37).
Sering kita bercerita tentang sesuatu atau pun tentang rahasia kepada orang lain dan meminta mereka untuk diam dan tidak menceritakannya kepada orang lain. Kita yakin orang itu tidak menceritakan omongan kita? Syukurlah kalau yakin. Namun layak untuk diingat bahwa kita tidak mempunyai jaminan bahwa orang tersebut tidak menceritakan apa yang kita ceritakan padanya.
Bagaimana kita sungguh menjaga rahasia yang kita miliki? Pada siapa kita berani menceritakan rahasia kita? Siapkah kita bila hal tersebut diceritakan kembali oleh orang itu?

Doa:
Tuhan semoga aku mampu mengendalikan diri dalam menceritakan suatu rahasia. Semoga aku pun bisa dipercaya ketika mendapat kabar rahasia. Amin.
(goeng)

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: