Jumat, 27 Juli 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Jumat, 27 Juli 2018

Jumat, 27 Juli 2018
by

Percikan Nas
Jumat, 27 Juli 2018
Petrus Krisologus, Yustinus de Jakobis
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Yer. 13:1-11; MT Ul. 32:18-19,20,21; Mat. 13:31-35. BcO Ayb. 29:1-10; 30:1,9-23.

Nas Injil:
31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. 32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” 33 Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” 34 Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, 35 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”

Percikan Nas:
Tuhan memberikan perumpamaan biji sesawi dan ragi untuk Kerajaan Surga. Dua hal yang sangat kecil namun bisa bertumbuh besar dan mengubah yang besar menjadi seuatu yang dimaksud. Biji sesawi itu kecil namun kala bertumbuh bisa menjadi tanaman yang besar dan rindang. Ragi sedikit bisa mengubah adonan siap menjadi bahan roti.
Sering di antara kita merasa kecil dan tidak bisa apa-apa kala diminta menjadi ketua lingkungan, wilayah, dewan maupun prodiakon. Sering merasa tidak mampu kalau jadi prodiakon. Bapak Kardinal Darmoyuwono almarhum pernah mengatakan, “Tidak ada yang tidak berguna, semua berarti bagi Tuhan.”
Memang semua itu berarti bagi Tuhan. Tuhan mencipta manusia dengan keunikannya. Keunikan tiap manusia berguna bagi kehidupan bersama. Tiap manusia pun mempunyai daya umum yang hampir sama. Daya ini bisa bertumbuh kala berani “mati” dan melebur dengan tanggungjawab hidup yang kita terima. Saya percaya kala orang mau maka orang tersebut akan mampu mengerjakan yang dipercayakan padanya. Kala kita berani menerima tanggungjawab yang seakan berat bagi kita maka daya itu akan bertumbuh kala kita mengerjakannya.

Doa:
Tuhan memang mungkin aku belum mengenal semua rahmat-Mu kepadaku. Kadang aku jadi merasa tidak mampu terhadap sesuatu. Kini aku percaya bahwa Engkau telah memberikan aneka rahmat yang membuatku berdaya. Semoga aku mempunyai kekuatan untuk menumbuhkannya. Amin.

Kita berdaya
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: