Jumat, 25 Mei 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Jumat, 25 Mei 2018

Jumat, 25 Mei 2018
by

Percikan Nas
Jumat, 25 Mei 2018
Beda Venerabilis, Gregorius VII, Maria Magdalena de Pazzi
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Yak. 5:9-12; Mzm. 103:1-2,3-4,8-9,11-12; Mrk. 10:1-12. BcO 2Kor. 5:1-21.

Nas Injil:
1 Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situpun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula. 2 Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?” 3 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Apa perintah Musa kepada kamu?” 4 Jawab mereka: “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” 5 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. 6 Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, 7 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, 8 sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. 9 Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” 10 Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. 11 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. 12 Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.”

Percikan Nas
Bacaan hari ini sering kita dengar kala ada pemberkatan perkawinan. Namun ada satu hal yang menarik hati saya yaitu, “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah” (Mrk 10:11-12). Hal menarik bukan soal cerai dan zinahnya tapi dalam kalimat tersebut Yesus mendudukkan posisi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Bahwa tindakan menceraikan mungkin dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Hal itu dikatakan Yesus di hadapan orang Yahudi yang patriarkal. Tuhan menerobos budaya Yahudi saat itu yang menempatkan laki-laki sebagai yang berkuasa.
Pada masa kita sekarang ini makin tampak pula kesetaraan laki-laki dan perempuan. Sebagai manusia ciptaan Tuhan laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama. Kita pun bisa menyaksikan di berbagai lini kehidupan masyarakat. Bahkan dalam berita terbaru direktur CIA yang baru di Amerika adalah seorang perempuan. Banyak perempuan menjadi pemimpin negara yang hebat.
Kiranya layak kita juga menegaskan kesetaraan kita sebagai umat ciptaan Tuhan. Tuhan pun telah memberikan sikap yang jelas dan pasti mesti menjadi contoh kita. Sebagai sesama ciptaan Tuhan laki-laki dan perempuan setara untuk menjadi partner Tuhan bagi damai sejahtera di bumi ini.

Doa:
Tuhan semoga kami sebagai ciptaan-Mu menjunjung tinggi kesetaraan martabat kami. Semoga kami bisa saling bekerjasama menghadirkan kerajaan-Mu di tengah dunia ini. Amin.

Setara.
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: