Jumat, 23 Februari 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Jumat, 23 Februari 2018

Jumat, 23 Februari 2018
by

Percikan Nas
Jumat, 23 Februari 2018
Polikarpus
warna liturgi Ungu

Bacaan-bacaan:
Yeh. 18:21-28; Mzm. 130:1-2,3-4ab,4c-6,7-8; Mat. 5:20-26. BcO Kel. 12:21-36.

Nas Injil:
20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Percikan Nas
Beberapa waktu ini tersiar beberapa berita tentang seorang anak kandung yang menuntut ibunya. Ada juga berita tentang perselisihan seorang ayah dengan anaknya. Bahkan ada pula perselisihan keluarga yang membawa korban. Berita-berita tersebut sungguh membikin hati jadi miris.
Yesus mengingatkan kita supaya hidup keagamaan kita tidak terlepas dengan hidup harian kita. “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-24). Kerukunan sebagai saudara menjadi salah satu prasyarat yang penting dalam kehiduoan beriman.
Apakan anda masih mempunyai persoalan dengan saudaramu? Apa yang membuatmu masih menyimpan persoalan tersebut? Mengapa tidak segera berdamai dengannya?

Doa:
Tuhan bawalah diriku untuk berjiwa rukun dengan sesamaku. Semoga aku lebih mudah berdamai dan sulit bermusuhan. Amin.
(goeng)

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: