Jumat, 21 September 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Jumat, 21 September 2018

Jumat, 21 September 2018
by

Percikan Nas
Jumat, 21 September 2018
Pesta St. Matius Rasul dan PengInjil
warna liturgi Merah

Bacaan-bacaan:
Ef. 4:1-7,11-13; Mzm. 19:2-3,4-5; Mat. 9:9-13. BcO Ef. 4:1-16.

Nas Injil:
9 Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. 10 Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. 11 Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” 12 Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. 13 Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Percikan Nas
Tanggal 20 September 2018 kami peserta temu Unio Regio Jawa berkunjung ke salah satu pesantren di daerah Bogor. Sampai di pesantren tersebut siang hari. Matahari pas terik-teriknya. Yang membuat saya kagum, di bawah terik matahari tersebut para santri dan santriwati berjejer menyambut kedatangan kami. Mereka tidak beranjak dari panas tersebut dan bertahan ceria sampai kami semua masuk ke tenda. Dugaan saya mereka diminta oleh pemimpin mereka. Mereka sungguh taat dengan pemimpin mereka dan mengikuti kata pemimpin.
St. Mateus beranjak meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti Yesus setelah Yesus memilihnya. Ia berada dalam kuasa sabda Yesus yang memanggilnya. Pekerjaan yang memberi hidup padanya pun ia tinggalkan. Ia tidak peduli dengan jaminan hidup hariannya. Seakan Yesuslah jaminannya. Ia taat mengikuti sabda Yesus untuk ikut bersama Yesus.
Dua kisah ini memberikan gambaran yang luar biasa dalam diri saya. Nilai ketaatan sungguh menggerakkan manusia dan menjalaninya dengan gembira. Mereka yang mempunyai ketaatan ini pun meraih kegembiraan bahkan jaminan hidup. Kiranya hal ini bisa menjadi semangat bagi kita untuk bersama-sama mempunyai jiwa ketaatan pada Tuhan. Kita rela melepaskan keinginan bahkan jaminan pribadi demi kebersamaan hidup beriman dan bermasyarakat. Pada Tuhan ada jaminan yang mencukupi kebutuhan kita.

Doa:
Tuhan Engkau menghendaki kami taat kepada-Mu. Tidak ada tuntutan lain selain itu. Semoga kami bisa taat kepada-Mu dan memberikan diri kami demi kebesaran-Mu dan kesejahteraan hidup bersama. Amin.

Taat pada sabda Tuhan

September adalah Bulan Kitab Suci
“Ayo rajin baca Kitab Suci”
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: