Jumat, 20 Juli 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Jumat, 20 Juli 2018

Jumat, 20 Juli 2018
by

Percikan Nas
Jumat, 20 Juli 2018
Apolinaris
warna liturgi Hijau

Bacaan-bacaan:
Yes. 38:1-6,21-22,7-8; MT Yes. 38:10,11,12abcd,16; Mat. 12:1-8. BcO Ayb. 6:1-30.

Nas Injil:
1 Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. 2 Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” 3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, 4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? 5 Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? 6 Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. 7 Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. 8 Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Percikan Nas:
Pada suatu kali saya bertemu dengan seorang anak bersama dengan orang tuanya. Ketika ia melihat ada makanan yang disukai langsung meminta ijin untuk mengambil makanan tersebut. Mungkin karena malu atau merasa tidak sopan ibunya melarang/memperingatkan anak tersebut. Namun saya langsung menahan larangan si ibu dan mempersilakan anak tersebut makan makanan itu. Ia pun tampak gembira dan ceria.
Para murid kala merasa lapar segera memetik gandum dan makan, meski hari Sabat (bc. Mat 12:1). Daud dan pengikut masuk bait Allah dan makan-makanan untuk para imam saja (bc. Mat 12: 3-4). Imam-imam melanggar hukum Sabat di Bait Allah namun tidak bersalah (Mat 12:5). Tindakan-tindakan ini spontan karena situasinya atau jabatannya. Mereka digerakkan oleh daya spontan untuk menyikapi situasinya.
Daya spontan dalam hidup ini akan menggerakkan kehendak kita untuk menyikapi apa yang ada. Umat-umat di paroki dan wilayah spontan berbenah karena akan kedatangan uskup. Mereka yang di Gereja segera menata kursi karena kursi masih tertumpuk. Para ibu sibuk menghias altar atau menyiapkan hidangan. Daya spontan ini sungguh terasa menghidupkan bahkan menyelesaikan sesuatu yang tertunda. Menjalankan daya tersebut kadang-kadang memang mesti bertubrukan dengan aturan, sopan-santun atau pun gengsi posisi. Demi berjalannya segala sesuatu kita tidak perlu takut kala hal itu harus terjadi. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan” (Mat 12:7).

Doa:
Tuhan semoga hidupku lebih mementingkan belaskasih. Semoga aku mempunyai kepekaan dan daya spontan dalam menyikapi situasi yang ada di sekitarku. Bantulah mereka yang kadang harus menerobos hukum demi menolong sesama. Amin.

Daya Spontan
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: