Jumat, 11 Mei 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Jumat, 11 Mei 2018

Jumat, 11 Mei 2018
by

Percikan Nas
Jumat, 11 Mei 2018
Ignasius dr Laconi, Benincasa
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Kis. 18:9-18; Mzm. 47:2-3,4-5,6-7; Yoh. 16:20-23a. BcO Kis. 22:22-23:11.

Nas Injil:
20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. 21 Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. 22 Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. 23 Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.

Percikan Nas
Pada para siswa retretan kelas 9 atau 12 saya sering mengajak mereka berpantang dan berpuasa selama beberapa minggu/bulan guna menyongsong masa depan yang lebih tenang. Selama beberapa minggu/bulan ke depan mereka kuajak meninggalkan kesenangan pribadi dan berfokus pada persiapan ujian. Puasa dan dukacita mempersiapkan diri menghadapi ujian akan terlunaskan oleh kelulusan dan diterimanya pada pendidikan selanjutnya.
Yesus pun menguatkan para murid. Ia mengatakan bahwa dukacita yang sekarang ini mereka alami akan berubah menjadi sukacita dan mereka akan lupa dukacita yang dialami. Gambarannya seperti ibu yang melahirkan, “Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia” (Yoh 16:21).
Saat-saat tertentu dalam perjalanan hidup kita memerlukan kerelaan untuk menjalani matiraga dan dukacita. Masa-masa itu memang tidak kita ketahui dengan pasti kapan akan mulai dan kapan berakhir. Ketidakpastian ini memang sering membuat kita goyah. Tuhan mengingatkan kita bahwa sukacita akan datang pada yang setia. Maka mari kita tetap bertekun dalam hidup walau derita seakan menguasai. Masa sukacita akan menghampiri kita.

Doa:
Tuhan meski Engkau telah naik ke surga, Engkau tidak membiarkanku sendirian. Walau ada derita dalam perjalanan hidupku Engkau menjanjikan sukacita kala aku setia dan tekun. Jagailah aku untuk setia pada-Mu dan tekun dalam menjalani hidup ini. Amin.

Sukacita setelah derita.
(goeng).

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: