Jumat, 02 Februari 2018 – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Jumat, 02 Februari 2018

Jumat, 02 Februari 2018
by

Percikan Nas
Jumat, 02 Februari 2018
Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah
warna liturgi Putih

Bacaan-bacaan:
Mal. 3:1-4 atau Ibr. 2:14-18; Mzm. 24:7,8,9,10; Luk. 2:22-40 (Luk. 2:22-32). BcO Kel. 13:1-3a,11-16.

Nas Injil:
22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, 23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, 24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. 25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, 26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. 27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, 28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: 29 “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, 30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, 31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Percikan:
Simeon mendapat janji kalau ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias (Luk 2:26). Ia pun berpegang pada harapan pemenuhan janji tersebut. Sampai usia lanjut ia tetap memegang harapan tersebut. Dan benar harapan itu terpenuhi.
Belajar dari Simeon kiranya kita pun perlu mempunyai keyakinan harapan akan terpenuhi. Kita memegang harapan yang kita miliki sekaligus terus tekun menjalankan apa yang semestinya kita jalankan. Harapan yang dipegang erat dan kehidupan harian yang dijalani sebagaimana mestinya pada saatnya akan menghadirkan kenyataan pemenuhan harapan.
Apa yang kita lakukan kala merasa harapan kita tidak kunjung datang? Bagaimana menjaga harapan dalam hidup kita?

Doa:
Tuhan semoga aku mempunyai ketekunan menjalani kehidupan harianku sambil menantikan pemenuhan harapan yang Kaujanjikan. Semoga aku tidak gampang goyah. Amin.
(goeng)

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: