Bonoharjo (Mulai) Membangun Rumah Allah – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Bonoharjo (Mulai) Membangun Rumah Allah

Bonoharjo (Mulai) Membangun Rumah Allah
by

Gereja merupakan paguyuban yang terus tumbuh  dan berkembang. Sebagai bagian dari Paroki Wates, umat di Gereja Maria Mater Dei Bonoharjo mengalami pertumbuhan yang menggembirakan.   Gereja Bonoharjo yang pada awalnya menempati SD Kanisius Bonoharjo kini berkembang secara signifikan. Data Litbang Stasi Bonoharjo (2013) menunjukkan, jumlah umat Bonoharjo terdiri dari 531 KK atau 1.517 jiwa. Jika berpikir 20 tahun ke depan, dengan asumsi bahwa pertumbuhannya linear, jumlah umat di Bonoharjo diperkirakan mencapai 1.745 jiwa.

Akan tetapi, di balik perkembangan umat yang menggembirakan, gedung gereja sebagai tempat merayakan Ekaristi sudah tidak mampu menampung umat dan tidak nyaman untuk beribadah.  Kondisi saat ini gedung gereja Bonoharjo memiliki luas sekitar 250 meter persegi. Area ini  digunakan untuk menampung umat rata-rata sekitar 700 orang. Apa yang terjadi? Setiap kali perayaan Ekaristi Minggu, selalu ada umat  yang terpaksa  duduk di luar gereja. Bahkan ketika Ekaristi Hari Raya Natal dan Paskah, panitia hari raya harus menyewa tenda dan tambahan kursi sebanyak 800-900 buah yang ditempatkan di halaman gereja.

Dengan situasi sebagaimana diuraikan di atas, umat Bonoharjo berkeinginan untuk membangun gedung gereja yang nyaman dan mampu menampung umat lebih banyak. Proses pembangunan sudah berlangsung sejak 2011, ketika Kabid Litbang Dewan Stasi Bonoharjo menyebarkan angket terkait rencana pembangunan gereja. Hasil angket menunjukkan, sebanyak 98,9% umat Bonoharjo setuju gereja direnovasi. Sebagai tindak lanjut hasil angket, Dewan Stasi membentuk Panitia Renovasi dan Penataan Kawasan Gereja Bonoharjo. Dalam perkembangannya, Panitia mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan renovasi gereja karena ada isu pelebaran jalan Kenteng-Brosot sebagai dampak dari pembangunan bandara baru di Kulon Progo. Jika ada pelebaran jalan, renovasi gereja menjadi sia-sia karena bangunan gereja akan tergusur. Untuk mengantisipasi pelebaran jalan yang mungkin terjadi, akhirnya Panitia membeli tanah (melalui proses tukar-guling) yang letaknya berada di sebelah barat gereja.

Proses pembangunan gereja Bonoharjo kini berada di bawah komando Romo Agoeng, sebagai penanggung jawab umum. Pada pertemuan terbatas Minggu (26/11/2017), Pastor Paroki Wates ini menyebutkan ada tiga tahap yang harus dilalui dalam proses pembangunan: tahap penyelesaian administrasi, tahap membangun, dan tahap peresmian.  Kini proses pembangunan masih berada di tahap penyelesaian administrasi, tepatnya membuat desain gereja. Salah satu bagian dari tahap penyelesaian administrasi, pada Minggu (4/2/2018) Panitia Pembangunan mendengarkan serta berdiskusi terkait desain gereja yang dibuat oleh tiga arsitek: Donatus Dono Sugestiaji, Petrus Martaji Joko, dan Vincentius Gilang Putra Perdana. Membangun rumah Allah adalah membangun paguyuban. Oleh karena itu, sudah layak dan sepantasnya apabila setiap tahapan pembangunan umat selalu dilibatkan. Terkait dengan pelibatan umat, Panitia memperbanyak tiga desain gereja. Umat di seluruh Paroki Wates diharapkan memilih desain yang dianggap baik. Proses pemilihan dapat dilakukan secara manual atau melalui daring di situs https://parokiwates.com. Meskipun desain dengan mayoritas pemilih belum tentu menjadi pilihan Keuskupan Agung Semarang, namun pada tahapan ini Panitia ingin menunjukkan bahwa membangun gereja adalah membangun paguyuban.

        

 

Y Bambang Ruwanto

Umat Wilayah Bonoharjo

 

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: