Romo Antonius Budiyanto, Pr – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Romo Antonius Budiyanto, Pr

Romo Antonius Budiyanto, Pr
by

Romo Antonius Budiyanto, Pr adalah romo projo Keuskupan Purwokerto yang hari Rabu, 24 Januari 2017, pukul 17.00 ditahbiskan sebagai imam. Berikut adalah kutipan tentang Romo Antonius Budiyanto, Pr. Yang berasal dari Karangasem, Kedungsari, Pengasih, Kulon Progo. Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates.

Saya  bertemu  dengan  sosok  imam yang sangat  akrab  dengan  anak-anak.  Beliau  selalu menyapa dan begitu ramah dengan siapa saja. ltulah awal ketertarikan untuk menjadi seorang imam, karena melihat sosok imam. Saya kemudian mengungkapkan keinginan ini kepada ibu, tetapi beliau rasanya kurang begitu percaya dengan niatan saya ini. Saya sendiri merasa niatan untuk menjadi imam itu begitu kuat. Kadang-kadang, saya main ‘romo­ romoan’ dengan adik-adik saya. Saya menjadi ‘romo’-nya dan adik-adik menjadi umatnya.

Akan tetapi , panggilan ini juga mengalami suatu dinamika pasang-surut. Adakalanya keinginan untuk menjadi imam itu pudar dan berganti pada suatu cita-cita yang lain. Saya merasa keinginan untuk menjadi imam itu hilang ketika memasuki SMP. Hal ini saya rasakan ketika masih berada di kelas 7 dan 8. Saya benar-benar tidak ingin menjadi imam lagi dan mempunyai cita-cita yang lain. Namun, ketika masuk kelas 9, panggilan itu muncul kembali. Saya berkeinginan untuk melanjutkan ke seminari menengah. Saya membicarakan dengan kedua orang tua, tetapi mereka mempunyai pertimbangan lain. Saya kemudian mengurungkan niat untuk masuk ke seminari dan mendaftarkan di sebuah SMA Negeri.

Selama di SMA, saya sering merenung-renung bagaimana hidup menikah dan hidup menjadi seorang imam. Saya mempertimbangkan berbagai hal yang akan dialami dengan suatu pilihan hidup ini. Ketika kelas XII SMA, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri masuk seminari. Hal ini tentunya sudah menjadi pertimbangan saya akan suatu pilihan hidup yang akan dijalani . Waktu itu, saya mendaftakan diri di seminari Mertoyudan, tetapi gagal. Kemudian, saya mendaftarkan diri di seminari Stella Maris. Saya menjalani masa KPA selama dua tahun . Pengalaman ini membuat saya belajar banyak bagaimana hidup dengan banyak orang dan bagaimana membina diri sebagai calon imam.

Menjadi Calon Imam Diosesan Keuskupan Purwokerto

Setelah lulus dari seminari menengah, saya mengikuti tes untuk bergabung dengan calon-calon imam diosesan Purwokerto. Mengapa saya memilih Purwokerto? Saya tertarik dengan Keuskupan Purwokerto karena pernah membaca buku peregrinasi para frater Keuskupan Purwokerto. Dari cerita-cerita itu, saya menemukan banyak kisah yang menarik dari perjalanan mereka. Dari sinilah , awal ketertarikan saya dengan Keuskupan Purwokerto ketika seminari menengah. Setelah dinyatakan  diterima,  saya  menjalani  hidup  sebagai seorang calon imam di Tahun Orientasi Rohani Tegal bersama dengan lima orang rekan yang lain.

Selama di TORSA, saya diberi banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Pengalaman peregrinasi, yakni berjalan kaki  dari  Purworejo  sampai  Tegal  memberikan sebuah inspirasi dalam menjalani  panggilan  ini.  Tuhan  masih  selalu  memberikan kesemmpatan  kepada  hamba-Nya  ini dalam segala  kelemahan  dan  kerapuhannya.  Setelah  tahun,  para formator  mengizinkan saya  untuk melanjutkan  pendidikan  ke jenjang selanjutnya di Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan.

Saya sungguh bersyukur diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi Kentungan . Pendidikan di seminari ini saya jalani selama tujuh tahun, diselingi masa Orientasi Pastoral di Seminari Menengah Mertoyudan. Pengalaman ini membuat saya berefleksi tentang berbagai hal. Sungguh, Tuhan mempercayakan sesuatu kepada saya untuk dikembangkan dalam hidup ini. Pengalaman menjalani hidup dan panggilan sebagai calon imam, semakin menyadarkan diri saya bahwa Tuhan berani bertaruh dalam hidup saya. Tuhan  adalah  petaruh  yang  besar.  Ia  mau  menggunakan  hamba-Nya  yang  penuh  kelemahan ini untuk suatu tugas yang besar.

Hal ini semakin menegaskan bahwa Tuhan itu begitu mencintai saya. Ketika akhirnya diizinkan untuk menerima tahbisan imam, saya bertanya dalam hati, ‘siapakah aku ini Tuhan, hingga  boleh  menjadi  imam-Mu?’  Pertanyaan  ini semakin  mengantarkan  diri saya untuk mencintai panggilan yang telah diberikan Tuhan  ini. Terima kasih Tuhan atas segala yang Engkau berikan dalam hidup ini. Terima kasih bahwa Engkau sudah, sedang, dan akan selalu mencintaiku.

Tuhan, aku mencintai-Mu:

Kyrie, philo Se (Yohanes 21: 15) menjadi motto tahbisan saya dan Ramo Ontong. Hal ini mengungkapkan sebuah  ungkapan syukur  kami atas penyertaan Tuhan di dalam langkah panggilan ini. Di dalam menjalani panggilan ini, saya sungguh merasakan kasih dan penyertaan Tuhan. Diri saya semakin terolah dengan baik dalam hal kepribadian, intelektual, rohani, hidup bersama, dan pastoral. Hal ini merupakan rahmat Tuhan yang senantiasa mengalir dalam kehidupan saya. Tuhan, aku mencintai-Mu merupakan sebuah ungkapan bahwa dalam segala perutusan, saya akan berusaha menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Hal ini sebagai wujud kecintaan saya akan panggilan sebagai seorang imam dan kecintaan akan dioses yang telah  membesarkan  serta  mendidik saya.

Terima kasih kepada para ramo, yang telah mendidik dan mendampingi perjalanan panggilan saya dari seminari menengah sampai jenjang seminari tinggi. Terima kasih kepada romo pendamping Topper dan pendamping ketika menjalani masa diakonat. Terima kasih kepada seluruh umat, bapak-ibu, para frater, para suster, dan semuanya saja atas berbagai hal yang telah diberikan . Tentunya, saya juga mohon doa dari anda semua, supaya bisa menjalani dan menghidupi imamat ini dengan baik.

 

BIOGRAFI

Tempat, Tanggal lahir     : Kulon Progo, 15 April 1989

Alamat                             : Karangasem, Kedungsari, Pengasih, Kulon Progo, Yogyakarta

Asal Paroki                      : Santa Maria Bunda Penasihat Baik, Wates

Nama Ayah                     : Agustinus Ribut Raharjo

Nama Ibu                        : Yustina Warsinah

RIWAYAT PENDIDIKAN

1993 – 1995                    : TK Maria Mater Dei Bonoharjo

1995 – 2001                    : SD Kanisius Bonoharjo

2001 – 2004                    : SMP N 2 Pengasih

2004 – 2007                    : SMA N 1 Sedayu

2007 – 2009                    : KPA Seminari Menengah Stella Maris Bogor

2009 – 2010                    : Tahun Orientasi Rohani St. Agustinus Tegal

2010 – 2014                    : Seminari Tinggi Kentungan dan Fakutas Teologi Wedabhakti (S1)

2014 – 2015                    : Tahun Orientasi Pastoral di Seminari Menengah St. Petrus Kanisius Mertoyudan Magelang

2015 – 2017                    : Seminari Tinggi Kentungan dan Fakultas Teologi Wedabhakti (Bakaloreat dan Ad Audiendas)

Feb – Juli 2017                : Masa Diakonat di Paroki St. Yohanes Maria Vianney Kebumen

Agustus 2017                  : Menjalani Retret Agung di Wisma Kana Salatiga

September 2017 – kini    : Masa Diakonat di Paroki Gembala Yang Baik Limpung

“Proficiat Romo Antonius Budiyanto, Pr. Selamat berkarya di ladang Tuhan”

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: