Jeep Putih Sadon, Inspirasi Romo Budi – Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik – Wates, Kulon Progo, Yogyakarta

Jeep Putih Sadon, Inspirasi Romo Budi

Jeep Putih Sadon, Inspirasi Romo Budi
by

Jeep Putih Sadon, Inspirasi Romo Budi

 “Ada sebuah Jeep putih terparkir di halaman Gereja Maria Mater Dei Bonoharjo. Di pintu belakang jip tersebut tergantung sebuah ban serep dengan pembungkus/cover bertuliskan Saridon. Saya selalu tertarik dengan mobil itu dan terbiasa membaca tulisan Saridon menjadi Sadon. Le,  kuwi le maca Saridon dudu Sadon… Sa..ri…don.., sapa Romo Winarto dari belakang sambil menepuk pundak saya.”

Sepenggal cerita di atas mengawali cerita Romo Antonius Budianto, Pr pada Misa Perdana di Gereja Bonoharjo (Minggu, 19/2). Romo Budi merupakan imam ke-19 yang ada di Paroki Wates. Ia terlahir dari keluarga Bapak Ribut Raharjo dari Lingkungan St. Paulus, Wilayah Kedungsari II, Stasi Bonoharjo. Romo Budi ditahbiskan pada 24 Januari 2018 oleh Uskup Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. di Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto.

Dalam Ekaristi Konselebrasi bersama Romo Petrus Agoeng Sriwidodo, Pr; Romo Budi menceritakan bahwa panggilan menjadi seorang imam tidak harus melalui peristiwa yang dahsyat dan spektakuler. Peristiwa yang kecil dan sederhana, seperti ban serep tadi, dapat menjadi sarana sapaan Allah.

Dalam homilinya, Romo Budi menyampaikan pesan Romo Frans Sabas yang ia peroleh saat retret seminaris. Ada tiga pesan inspiratif yang disampaikan yaitu cintailah apa yang ada di hadapanmu, selesaikanlah apa yang kamu kerjakan seperti pepatah Jawa “tekun bakal tekan”, dan sedikitlah bicara (hal-hal tidak penting) tapi banyaklah bekerja. Bukan berarti tiap orang tidak pernah gagal atau kecewa, tapi melalui peristiwa tersebut kita akan menjadi lebih serius dalam hidup ini.

Berkaitan dengan bacaan hari ini, Yesus dicobai iblis, Romo Budi mengatakan bahwa Yesus  menggunakan anggota tubuh-Nya dengan sangat baik sehingga tidak terjerumus ke dalam dosa. Romo yang masuk seminari 11 tahun lalu ini memaparkan lagi falsafah kerata basa/ jarwo dhosok Jawa tentang anggota tubuh; Rambut (rambataning urip) yang mengajarkan kita agar selalu sadar bahwa kita butuh orang lain sehingga tidaklah pantas menyombongkan diri. Bathuk (ngembata bab sing mathuk), yaitu berpikirlah tentang hal-hal yang baik. Mata (ngemoto bab-bab sing tumata), yaitu melihat perkara-perkara baik. Grana (segere ono), mencium hal-hal yang baik. Tutuk (matura bab sing mathuk), selalu mengatakan hal baik. Pada falsafah tutuk (mulut) ini, Romo juga merujuk ilmu psikologi yang menyebutkan bahwa seorang laki-laki mengucapkan 15-20 ribu kata per hari. Sedangkan perempuan sebanyak 60 ribu kata per hari. Kita harus berhati-hati dengan kemampuan kita ini. Yang terakhir adalah weteng, yaitu ngrumata barang kang mateng, memelihara sesuatu yang selalu sehat dan baik di dalam tubuh kita.

Pada hari yang membahagiakan ini, acara diakhiri dengan pesta syukur nyoto bersama seluruh umat. Proficiat Romo Budi! Semoga selalu sehat dan bahagia dalam pelayanan. Berkah Dalem.

 

 

“Setiap orang yang saya jumpai adalah guru.

Dan setiap jalan yang saya lalui adalah sekolah”

(Romo Budi)

 

r arifin nugroho

share

Recommended Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: